Saturday, August 16, 2014

....

Tidak seperti biasanya, dua cangkir kopi berukuran besar tidak cukup melegakan dahaga sore ini. Dengan kopi yang sama, takaran yang tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini kopi tidak seperti teman baikku. Terlalu pahit. Gemuruh angin serasa deburan ombak yang biasa kurindukan juga tak memberiku ketertarikan. Aku diam mematung di dalam kamar, tak begitu ingin makan meski lapar.

Semenjak kemarin, aku seperti orang tuli. Menutup telinga dengan orang-orang yang berusaha memberi pembenaran. Sekalipun aku yang salah, hidupku bukan untuk mendengar apa yang pernah berusaha ditutupi. Apapun alasannya.

"Kepercayaan ibarat kertas. Sekali lecek, sungguh tak mungkin ia bisa dikembalikan seperti semula."

Aku memberi jeda, dan tidak menutup semua ruang antara kau dengan seseorang. Siapapun itu, terkecuali masa lalumu. 

"Semakin digenggam erat, semakin ia terlepas dari genggaman." Bukan seperti itu ilmu pasir?

Tapi tentang apa yang aku percayakan dan tidak kau iyakan, semua menjadi ketakutan yang semakin. Lalu, untuk apa bersusah-susah hidup dengan ketakutan? Sementara diluar sana ada yang bersungguh-sungguh ingin membahagiakan. Jatuh cinta tidak semudah menemukan kamu di hatiku, aku padamu adalah apa yang sudah kupastikan akan kupertahankan. Semoga kamu padaku seperti apa yang juga aku usahakan. 

No comments:

Post a Comment