Lalu, apa bedanya aku dengan kameramu? Yang kau bidik hanya saat kau tak ada kerjaan.
Lalu, apa bedanya aku dengan MP3 Playermu? Yang kau putar hanya saat kau butuh hiburan.
Lalu, apa bedanya aku dengan jam tanganmu? Yang kau lihat hanya saat kau butuh diingatkan.
Lalu, apa bedanya aku dengan cangkir kopimu setiap sore? Yang kau seduh hanya saat kau jenuh.
Kalau hanya saat sepi alasanmu kembali, aku untukmu tidak sepenting itu. Kau putar arah bukan karena tujuanmu disana, tapi karena jalanmu buntu dan kau tak punya jalan lain selain melaluinya.
Aku punya tisu, bukan untuk menghapus air matamu. Tapi aku punya telinga untuk mendengar semua keluh kesahmu. Aku punya obat merah, bukan untuk menghapus lukamu. Tapi aku punya bahu untuk menjadi sandaran dan kekuatanmu tiap kali kau butuh.
Bahagiamu ya bahagiamu, bukan punyaku. Tapi lukamu dan air matamu itu mungkin adalah jelmaanku yang luruh saat kesakitan memerangimu. Lalu, apa bedanya kau dengan mereka? Datang padaku saat kau butuh, hilang saat kau senang. Datang saat tak ada teman cerita, hilang saat butuh berbagi suka.
Kau tak butuh aku, kau hanya butuh tempat hiburan untuk membuatmu bahagia lagi.

No comments:
Post a Comment