HEI, APA KABAR?
Kalimat itu harus aku sampaikan pada siapa? Pada boneka-boneka kesayanganku, pada hujan, atau pada matahari terbenam? Aku tau kita masih berada pada langit dan bumi yang sama. Tapi dimana kau sekarang selalu menjadi pertanyaan. Kau sedang apa? Semoga kamu yang berada jauh-entah-dimana tidak pernah merasa kelaparan. Jangan pernah berhenti tersenyum. Karena itu yang selalu aku rindukan darimu.
Aku pernah menunggu seseorang, jauh lebih lama dari separuh usiaku sendiri. Menunggu tanpa mengeluh, menunggu tanpa meminta untuk ditemui, dan aku menunggu tanpa terhitung berapa juta menitku tersita untuk suatu hal yang-aku-tau-sia-sia. Kadang terlintas pertanyaan, untuk apa? Sebatas rasa penasaran atau perasaan sungguhan, Tuhan yang tau, bahkan saat aku benar-benar merasa ragu.
Kamu apa kabar? Masihkah suka bermain drum? Masihkah suka pakai topi? Masih kau simpankah kado ulang tahun dariku yang tidak seberapa itu? Oh, hm masihkah kamu bersamanya? Di bibirku ini aku mengucap banyak pertanyaan. Aku harap angin menyampaikannya padamu disana, dan kau mendengarnya, degup jantungku yang tak pernah berhenti setiap aku mengingatmu.
Tuhan mengirimmu pada malam-malamku belakangan ini. Mungkin, walau bibirku berkata aku tidak lagi memikirkanmu, Ia tau bahwa disana aku sendiri ragu benarkah aku sudah lupa atau bahkan masih mengusahakan untuk lupa. Firasat, atau hanyalah rindu?
Tapi dalam mimpipun aku masih saja melihatmu dalam diam. Dari kejauhan. Apa sebegitu jauhnya aku untukmu?
Namamu tak pernah kulupa. Meski aku tak pernah tau apa nama perasaan ini. Tuhan tak pernah ingkar janji, pada setiap mimpi yang kutaruh di setiap sujudku, pada setiap harapan yang aku pasrahkan padanya. Entah, aku selalu optimis pada tiap-tiap pertemuan kita adalah kehendakNya, rencana yang hanya Dia yang tau dimana nantinya kita dipertemukan lagi.
No comments:
Post a Comment