
Aku bosan. Aku ingin menghilang dari hingar bingar kesibukan. Belajar bertahun-tahun ternyata tak jua membuatku pintar. Bagaimana pelajaran yang berlalu dengan mudah kulupakan, sedangkan kamu yang entah-sudah-terlalu-lama-pergi tak cukup mudah kuabaikan ketika kau kembali datang. Padamu sempat ingin kulanjutkan. Memulai dan membacanya dari awal. Kenyataannya mengulang selalu menjenuhkan.
Tapi, bagaimana jika Tuhan membawamu pulang? Seperti pada pertemuan kita minggu lalu. Mengantarkanmu padaku, atau mengantarkanku padamu. Kadang, ada satu waktu tanpa harus menuju, jalan kita pasti kesitu. Itu bukan ilusi, atau halusinasi, mungkin cara Tuhan yang seperti itu. Membawa kita pada sebuah pertemuan.
Kita tidak akan tahu, kapan sesuatu yang bahkan kau inginkan berubah menjadi menjemukan. Seperti yang aku bilang, waktu adalah teka-teki. Kita tak bisa menebak pada siapa akhirnya kita berhenti. Kemarin, mungkin kita hanya perlu revisi. Bagaimana spasi ada untuk lebih bisa dimengerti. Kita hanya membutuhkan jarak untuk lebih tertata. Seperti pada barisan kata, kita butuh koma untuk sebuah jeda.
Pagi itu, aku terbangun dengan kamu disebelahku. Butuh waktu untuk aku benar-benar meyakini itu kamu. Tidakkah kamu percaya takdir Tuhan itu ada? Saat dunia yang begitu luas, terasa sangat sempit untuk kau pijaki. Saat sejauh apapun kamu berlari, ternyata tujuanmu hanya selangkah dari tempatmu berdiri. Saat terlalu lama kamu mencari, ternyata kau hanya butuh sedetik untuk menemukannya. Mungkin terlalu banyak berkelana, seperti layaknya jiwa-jiwa yang rentan jatuh cinta. Kita hanya terlalu ragu mengartikan, akan apa yang membedakan takdir dengan kebetulan. Tapi satu yang kutau, sayang takkan ada yang bisa memisahkan apa yang telah Tuhan satukan. Jika benar jalanku padamu, tak perlu kau tuntun, aku akan ketempatmu.
No comments:
Post a Comment