Thursday, August 4, 2011

Untittled by putri mayanti


Rumah kecil yang disulap menjadi kafe Pak Ewok yang terletak di tengah kota Bogor itu penuh dengan belasan pasang manusia. Lampu merah yang menggantung pada setiap sudut ruangan tidak terlalu menampakkan cahayanya menambah suasana yang sangat romantis, cocok untuk tempat para remaja labil yang sedang memadu kasih. Pelayan kafe berkali-kali mampir menawarkan selembar kertas menu makanan ke meja yang hanya di tempati satu orang wanita disana. Sherryl nampak tidak peduli berada sendirian di tengah kerumunan manusia yang saling berpasangan. Toh, dia juga sedang menunggu. Menunggu kekasih hatinya seperti mereka yang ada disana.
            Mata Sheryl terus berkeliaran menunggangi setiap punggung orang yang menutupi pintu masuk kafe itu. Badannya berdiri dengan gagap tiap kali melihat sosok pria datang dari sana. Berkali-kali dia memperhatikan jam merah marun yang melingkar manis di tangan kirinya. Detik terus berjalan dan membuat Sherryl semakin dongkol menunggu sendirian disana. Di mejanya hanya ada handphone yang dibiarkan tergeletak di samping lilin kecil yang menyala pada sebuah gelas beling berukuran sangat mini. Jemari tangannya gatal untuk sekedar membuka kunci handphone, mengecek mungkin ada panggilan atau sms yang masuk dari Jason.
Sherryl ternyata tidak cukup tahan dengan bunyi di perutnya yang semakin kencang. Tangannya melambai-lambai ke arah pelayan yang kebetulan lewat di mukanya. Segera dia memesan beberapa makanan dan minuman untuknya dan Jason.
            Sherryl masih sibuk memainkan keypad handphonenya sambil menunggu Jason dan makanan pesanannya datang. Tidak jelas apa yang sebenarnya sedang dicari olehnya disana. Tidak ada sms atau panggilan yang bisa dibalasnya. Dia hanya mengobati jenuhnya yang semakin membuatnya sangat kesal. Tiba-tiba telinganya mendapatkan seseorang meneriaki namanya. Bayangan Jason seketika memenuhi bola matanya. Tampan, cool dan berwibawa.
            Jason datang dengan sedikit berlari kecil. Senyumnya tipis bergelayut manja di bibirnya yang juga sangat tipis itu. Menampakkan muka sangat manis dihiasi lesung pipit yang mengembang dalam di pipinya. Rahangnya yang tegas seolah disembunyikan dengan senyumannya yang melekuk sangat menawan. Mata bulatnya berkedip nakal berkali-kali berusaha menetralkan amarah Sherryl yang sudah bisa ditebaknya dari kilatan di bola mata Sherryl.
Jason lalu menghampiri tubuh Sherryl, melingkarkan tangannya yang kekar di leher Sherryl dengan penuh kelembutan. Dia menunjukkan bunga mawar merah di tangan kanannya yang dia colong sebelumnya di florist milik Mamanya ke depan muka Sherryl. Sementara bibirnya sibuk menciumi puncak kepala sampai ke ujung telinga Sherryl lalu membisikinya “Aku selalu sayang sama kamu”.
            Sherryl tidak bergeming. Menikmati pelukan hangat dan kecupan penuh kasih sayang di kepalanya, bahkan bisikan lembut Jason yang sempat membuat bulu romanya berdiri. Dia tidak akan bisa menolak atupun marah meskipun hari ini dia dibuat sangat lelah menungguinya. Jason selalu tau bagaimana membuatnya selalu seperti itu. Jason selalu mengerti bagaimana caranya mengubur dalam-dalam niat Sherryl untuk memarahinya. Jason selalu mengerti bagaimana meredam tangis Sherryl menahan kesal karenanya. Dunia milik mereka sekarang, bukan milik pasangan lain yang tidak berhenti pamer kemesraan yang sama di tempat itu.
             Jason meninggalkan Sherryl dan bergeser sedikit menempati satu-satunya bangku kosong di meja itu yang memang disediakan untuknya. “Maafin aku ya sayang telat, tadi macet,” kata Jason membuka pembicaraan antara mereka berdua. Sesungguhnya dia sedang berbohong. Bogor bagian mana dari rumahnya menuju ke kafe itu yang jadi titik kemacetan? Tidak ada kemacetan kecuali jam pulang kerja dan hanya pada beberapa lampu merah, itupun pasti tidak terlalu panjang sampai membuatnya telat hampir 45 menit.
            Sherryl menyipitkan ujung matanya ke arah Jason menandakan ketidakpercayaannya pada alasan yang diberikan Jason barusan. Jason tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil sambil tangannya mengelus-elus tangan Sherryl yang sedari tadi memegangi bunga mawar pemberiannya di atas meja.
            “Kamu tau ya aku bohong?” kata Jason akhirnya diikuti anggukan kecil dari kepala Sherryl. “Iya aku abis jemput Mama dulu dari Cilodong, hehe..” kilahnya lagi-lagi.
            Sheryl hanya menyipitkan mata untuk kedua kalinya, lebih sipit dari sebelumnya. “Kamu bukannya ketiduran ya?” selidik Sherryl dengan tatapan yang semakin memojokkan Jason. “Iya iya, aku nyerah deh mau bohong ketebak mulu. Maaf yaa sayang aku jadi nggak jemput kamu di sanggar tari.” Jason akhirnya mengakui kebohongannya. Dia memang tidak akan pernah berhasil memberi alibi yang bisa memenangkannya.
            Sherryl hanya tersenyum. Sebelumnya dia memang sudah menelpon rumah Jason untuk memastikan kemana Jason tidak membalas pesan singkat darinya, dan Mamanya Jason bilang kalau dia sedang tidur. Jadi, ini bukan alasan yang tepat untuk bisa membodohinya. Sherryl selalu tau setiap kali Jason berusaha membohonginya. Itulah cinta.
 “Kamu sering bohongin aku, dan selalu buat aku marah, tapi kamu juga selalu bisa buat aku nggak pernah bisa marah sama kamu.” Sherryl membidik mata Jason penuh dengan ketulusan. Agak sedikit sebal, tapi nyatanya cinta selalu bisa memaafkan untuk Sherryl. Jason tertawa renyah melihat kekasih hatinya yang diburu rasa kesal karena ulahnya itu. “Maaf ya aku sering bohongin kamu, yang penting aku nggak pernah bohongin perasaan aku kalau aku bener-bener sayang banget sama kamu.”
            “Gombal!” bentak Sherryl. “Aku sebel sama kamu, aku kena gombalan kamu mulu!” Sherryl mencibir ke arah Jason dengan manjanya. Jemarinya yang mungil menoyor kepala Jason kuat-kuat membuat kepala Jason ikut terbawa dan membuatnya kaget seketika.
            “Aku selalu punya jurus andalan untuk mempertahankan kamu di hati aku.” Jason meraih tangan Sherryl yang sebelumnya dilipatnya di dada, memindahkannya ke dadanya. Membawa serta bunga mawar yang belum dilepaskan Sherryl dari genggamannya. Matanya menelusuri bola mata cokelat Sherryl seakan menelusuri juga hati wanita yang menempati hatinya itu.
            “Permisi, es buah duren montongnya dua. Macaroni panggangnya satu, dan terakhir sirloinnya satu. Sudah semua ya mbak?” Suara pelayan tiba-tiba memecah suasana hangat di antara mereka. Diikuti pelayan lain yang meletakkan makanan di meja saji. Seketika membuat keduanya sama-sama gugup tertangkap basah oleh manusia lain disana. Bersama membuat mereka melupakan dunianya masing-masing.
“Maaf Mbak, Mas jadi menganggu. Permisi.” Pelayan itu terkekeh melihat kecanggungan di antara mereka yang tercipta karena kedatangannya yang tiba-tiba. Lalu segera meninggalkan pasangan kekasih itu setelah meletakkan semua makanan di meja mereka.
Sherryl dan Jason beradu pandang mengamati punggung pelayan itu yang lama-lama semakin menghilang. Keduanya tertawa kecil karena malu.
“Sayang, aku mau pindah ke Aussie untuk sementara,” kata Jason tiba-tiba. Raut wajahnya sangat serius. “Papa minta aku kuliah Internasional Development disana.” Jason menarik pinggir mangkuk macaroni panggang kesukaannya. Lalu memotong kecil untuk dimakannya.
“Aku berangkat minggu depan sayang.” Kali ini ucapan Jason membuat Sherryl tersedak kuah es buah duren montong yang sedang dinikmatinya. Nada suaranya terdengar mengagetkan di telinga Sheryl yang masih sangat normal. “Hati-hati dong sayang!” Jason menarik ujung tisu dari kotaknya dan mengulurkannya ke bibir Sherryl.
Sherryl tidak bergerak. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Pikirannya menerka-nerka apa yang dikatakan Jason. Setengah hati percaya, sisanya ragu-ragu.
“Aku serius, aku nggak lagi bohong sekarang,” jawab Jason seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Sherryl sedari tadi. Tangannya menyentuh pelipis dan mengelus pipi Sherryl yang sedikit berminyak. “Kamu harus belajar terbiasa tanpa aku sayang, kita kan nggak mungkin sama-sama terus. Suatu saat pasti ada yang namanya perpisahan,” kata Jason kemudian memberi alasan untuk Sherryl.
“Kamu mau pisah sama aku?” tanya Sherryl datar. Air mata pertamanya menetes di telapak tangan Jason, membuatnya sangat bersalah. Kebersamaan mereka selama ini seakan dipertaruhkan oleh kata-kata Jason yang entah serius atau hanya lelucon.
Jason diam. Tangannya mengusap air mata Sherryl yang ternyata sudah bukan air mata pertama lagi. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia berantakan, tapi dia tidak juga sampai hati melihat wanita yang sangat dicintainya menangis di depannya. Apa yang bisa dilakukannya?
“Sudah diam, kamu sayang sama aku?” tanya Jason, tangannya masih memegangi pipi Sherryl. Menghapus air mata yang belum berhenti meluncur di wajah cantiknya itu. “Kalau kamu sayang sama aku, sekalipun kita jauh, aku pasti disana kan?” Tangan Jason yang satunya lagi beralih menunjuk ke bagian paling sensitif wanita, jantung hatinya.
Sherryl mengangguk cepat. “Itu pasti sayang, tapinya aku nggak mungkin tahan nggak ada kamu.” Muka Sherryl masih ditekuk meskipun tangisannya sudah berhenti. “Kamu nggak lama kan disana? Aku takut kamu kepincut sama bule terus kamu lupa sama aku,” kata Sherryl mengundang tawa kecil dari Jason yang sebenarnya jauh lebih sedih daripada dia.
“Nggak kok,” putusnya. “Enggak apa?” tanya Sherryl balik. Senyumnya kemana-mana mendengar jawaban Jason.
Jason terkekeh sendiri sebelum akhirnya menjawab. “Nggak mungkin kalau aku nggak kepincut bule. Disana kan bulenya cantik-cantik, sexi-sexi lagi, kamu mah lewat sayang, hahahaha…” Jason tertawa lebar seakan dia tidak merasakan kesedihan yang sama dengan Sherryl. Padahal dia yang paling terluka. Munafik! Tawanya itu dusta. Senyumnya itu topeng.
“Tuh kan belum berangkat saja sudah genit, gimana kalau udah disana? Pasti lupa banget sama aku,” rutuk Sherryl. Bibirnya mencibir sebal. Mulutnya yang sibuk mengunyah sirloin sambil mendumel menjadi terlihat sangat lucu, menggoda Jason untuk menciumnya.
Jason mendekat ke arah Sherryl. Tangannya merangkul bahu Sherryl, menciumi kepalanya dari atas. Sherryl menghentikan kesibukannya makan. Menarik jemari Jason yang menggantung lebih bawah lagi, dan menggenggamnya sangat erat. Dia menidurkan kepalanya di perut Jason. “Aku sayang sama kamu,” lirihnya, membuat air mata pelan-pelan meluncur di mata Jason. Ada arti dari bulir bening itu.

No comments:

Post a Comment