Aku duduk menunggu teman. Sendiri di balik pilar yang dibelakangnya ada sosok lain. Dia mengintip dibalik kaca tebal dimatanya. "Siapa dia, ganteng yaa!" batinku sambil menyembunyikan senyum tipis juga merah jambu dipipiku. Dia tetap asik sambil bolak-balik lagi mengintipku yang tak berteman.
Akhirnya temanku datang, dia menuntunku ke balik pilar dimana pria itu berada. Dan oh ternyata tujuanku memang ditempatnya. Mana kutau krn yg kutau aku sdg menunggu seseorang, bukan dia yg tdk kukenal.
Itu pertama kali waktu mengenalkan kami. Dia pun tidak dengan segera mengenalkan namanya, sampai akhirnya suasana mencair adanya.
Kalian tau, pertama kali kudengar namanya saja sudah kutemukan getaran yang sangat kencang. Sontak membangunkan ingatanku tentang seseorang di masa lalu. Namanya sudah sering kutulis di lembaran-lembaran berserak di kamarku. Walau bukan dia yang kumaksud kala itu, karena baru hari ini aku bertemu dengannya. Sebelum pertemuan ini pun, seseorang sudah berkali-kali menyebut namanya. Aku yang sering mendengar nama itu dari dahulu, memang ingin sekali bertemu dengan orang yang memiliki nama sama dengan seseorang di masa laluku itu. Dan hari ini tepatnya pertemuan pertama itu untuk batu loncatan pertemuan yang kedua ketiga dan selanjutnya. Aku senang bisa mengenalnya. Dia baik, dan sangat ramah dengan tata bicaranya.
Nyaris empat hari tiga malam aku bersamanya. Nampak aku rasa getar lain, yaa hanya untuk hari itu saja ternyata. Dan selama hari itu aku nyaman disampingnya, aku nyaman bersamanya. Sentuhan dan belaiannya di kepalaku yang membuatku benar-benar melemah. Aku diam dan aku pasrah ketika kala itu aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan kuharap dia rasakan sama sepertiku.
Pertemuan itu ternyata masih berlanjut. Aku kembali menemukan wajah yang putih itu. Lagi-lagi tiap pertemuan tak pernah terlewat juga belaiannya itu, sampai sekarang itulah yang kurindu. Sungguh ingin kudapat lagi belaian itu Tuhan :(
Selanjutnya hari-hari kami mulai dekat dgn kebersamaan. Canggung sudah tak lg membatas.Aku selalu mencari-cari alasan untuk membunyikan handphonenya. Panggilan sayangnya tiap kali menggantungkan aku. Aku ingin dimiliki seutuhnya tanpa cacat, tanpa wanita lain dikehidupannya. Ya, dia punya yang lain dihatinya dan jelas aku datang terlambat.
Aku bersabar dengan keadaan itu, dan akulah pemenangnya! Dia memilihku. Ya, akhirnya sampai pd akhrnya. Berjalan berdampingan, dan aku bahagia. Awalnya aku ragu dengan ribuan alasannya bertemu. Padahal aku ingin sekali dirangkulnya, dipeluknya, dikecupnya, dibelainya dan yang terpenting disampingnya.
Hari itu, aku melongok sebatang rokok berwarna hitam digenggamannya. Semua kunikmati dengannya. Semua mata melihat kami iri. Akhirnya kudapatkan semua belaian lembut itu lagi, rangkulan erat atu lagi. Nafasnya yang kuingat membuatku bahagia. Perhatiannya yang sedikit itupun cukup meyakinkan aku. Setiap menit yg singkat cukup membuka mataku tentang keseriusan. Tapi rasanya dugaan itu meleset.
Bukan jaminan trnyata semua sentuhan dan kata manis itu .
Dan kini aku hanya bisa melihat dia disana dr layar monitor, dan aku rindu rindu sekali wajah inocent itu. Alis mata tebal yang mirip seperti sinchan, juga bulu halus dibawah bibirmu itu yang belum sempat aku sentuh. Rasanya belum setahun yg lalu aku ditempat itu dengannya, bahkan belum sampai sebulan.
Yaa Tuhan, aku memang mulai menyayanginya tapi keputusan inilah jalan dari semua masalah itu.Dia teringat masa lalunya, dan akan sangat menyakitkan jika aku egois menyanyainginya sendiri sedangkan dia tak berniat sedikitpun mencobanya. Aku sudah mencoba pertahankan semampuku, tapi aku hanya akan mempertahankan yang bisa kupertahankan dan yang kudapat hanya cintaku :(
Aku pulang !!
Tp beling2 ternyata menantiku di perjalanan. Sampai akhrnya aku terluka lg. Yaa, benar memang kata orang 'Sesuatu yang tumbuhnya cepat wajib diwaspadai.' Meskipun begitu aku masih menunggumu kembali, karena khamulaah kharisma senja itu :)
No comments:
Post a Comment